Tanggal yang akan selalu dikenang oleh publik Bandung dan seluruh Bobotoh adalah saat Persib Bandung memastikan gelar juara di hadapan ribuan pendukungnya, dalam laga melawan Barito Putera. Pertandingan yang digelar di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) ini bukan sekadar laga penutup, melainkan malam penuh euforia, air mata, dan kebanggaan yang tertahan selama bertahun-tahun.
Gelar juara ini menjadi penantian panjang yang akhirnya terbayarkan. Sejak terakhir kali Persib menjuarai Liga Indonesia pada tahun 2014, klub terus berusaha bangkit dan bersaing di papan atas. Namun, berbagai tantangan, pergantian pelatih, dan inkonsistensi performa membuat gelar selalu menjauh. Hingga musim ini, ketika semua elemen tim bersatu demi satu tujuan: mengangkat trofi juara Liga 1.
Laga Terakhir yang Menentukan
Pertandingan melawan Barito Putera menjadi laga pamungkas musim ini. Meski secara matematis Persib sudah hampir pasti mengunci gelar, kemenangan tetap dibutuhkan untuk menutup musim dengan cara yang sempurna—di depan pendukung sendiri.
Bermain dengan penuh semangat, Persib tampil dominan sejak menit pertama. Gol cepat dari David da Silva di babak pertama membuka jalan bagi malam yang tak terlupakan. Striker asal Brasil itu menunjukkan kelasnya sebagai top scorer tim, memanfaatkan umpan silang dari Ciro Alves untuk menaklukkan kiper Barito.
Tak lama kemudian, Marc Klok menggandakan keunggulan lewat tendangan bebas spektakuler yang memantul tiang sebelum masuk ke gawang. Suara gemuruh GBLA mengguncang langit Bandung. Saat peluit akhir berbunyi, papan skor menunjukkan 3-0 untuk kemenangan Persib, dengan gol terakhir disumbangkan oleh Beckham Putra, pemain muda kebanggaan Bandung.
Atmosfer GBLA: Lautan Biru yang Bergelora
Sejak pagi hari, kawasan sekitar GBLA sudah dipadati oleh ribuan Bobotoh yang ingin menyaksikan sejarah. Nuansa biru mendominasi. Jersey Persib, bendera, syal, hingga wajah-wajah penuh harap membanjiri tribun stadion. Teriakan, nyanyian, dan yel-yel menggema jauh sebelum kick-off dimulai.
Saat tim memasuki lapangan, koreografi megah dari Bobotoh menyelimuti stadion. Spanduk besar bertuliskan “Saatnya Kembali Menjulang” terbentang, menjadi simbol harapan yang akhirnya terwujud. Suporter dari berbagai kota pun turut hadir. Dari Jakarta, Garut, Tasikmalaya, hingga luar pulau Jawa, semuanya datang untuk menyaksikan malam keemasan ini.
Kemenangan di laga ini terasa semakin emosional karena terjadi di kandang sendiri. GBLA menjadi saksi lahirnya kembali kejayaan Maung Bandung.
Perayaan Usai Peluit Akhir
Begitu wasit meniup peluit akhir, seluruh stadion bergemuruh. Para pemain saling berpelukan, beberapa bahkan menangis haru. Pelatih Bojan Hodak, yang baru musim ini menangani Persib, diangkat oleh para pemain sebagai bentuk penghargaan. Hodak sukses menyatukan tim, memaksimalkan potensi pemain lokal dan asing, serta membangun semangat juang yang tak tergoyahkan.
Trofi Liga 1 pun dibawa masuk ke lapangan. Satu per satu pemain menaiki podium, menerima medali, dan mengangkat piala juara. Kapten tim, Achmad Jufriyanto, menjadi yang pertama mengangkat trofi, disambut dengan kembang api dan hujan konfeti. Tangis haru terlihat di wajahnya, mengingat ini adalah musim terakhirnya bersama klub sebelum pensiun.
Setelah itu, seluruh tim melakukan victory lap mengelilingi stadion, menyapa suporter, dan mengabadikan momen dengan keluarga. Para pemain lokal seperti Febri Hariyadi, Henhen Herdiana, dan Rachmat Irianto mendapat sorakan meriah dari tribun, menunjukkan betapa cintanya Bobotoh terhadap darah biru Bandung.
Kiprah Musim Ini: Perjalanan Menuju Juara
Perjalanan Persib musim ini tak mudah. Mengawali musim dengan hasil kurang maksimal, sempat berada di luar empat besar, dan menghadapi kritik dari banyak pihak. Namun perlahan, tim bangkit. Pergantian pelatih dan peningkatan performa pemain kunci menjadi katalis kebangkitan.
David da Silva menjadi pencetak gol terbanyak klub dengan 20+ gol, didukung oleh kreativitas Ciro Alves dan determinasi Marc Klok di lini tengah. Lini pertahanan yang dikomandoi oleh Nick Kuipers dan Alfredo Agung juga tampil konsisten, hanya kebobolan sedikit dalam 10 pertandingan terakhir musim reguler.
Kemenangan-kemenangan penting atas tim kuat seperti Bali United, Arema FC, dan rival utama Persija Jakarta menjadi tonggak menuju tangga juara. Semangat “Fight Until The End” benar-benar diwujudkan sepanjang musim.
Reaksi Bobotoh dan Euforia Kota Bandung
Tak hanya di stadion, perayaan juga terjadi di seluruh kota Bandung. Jalanan dipenuhi konvoi Bobotoh yang bersorak-sorai, membawa bendera dan membunyikan klakson. Landmark kota seperti Gedung Sate dan Alun-Alun dipenuhi massa yang menyanyikan lagu kemenangan.
Di media sosial, tagar seperti #PersibJuara, #MaungJuara2025, dan #BobotohPride menjadi trending. Banyak tokoh publik, selebritas, bahkan pejabat daerah turut mengucapkan selamat. Wali Kota Bandung memberikan sambutan khusus dan menjanjikan pawai juara keesokan harinya, mengitari pusat kota.
Bagi Bobotoh, gelar ini lebih dari sekadar piala. Ini adalah bentuk pembuktian cinta mereka terhadap klub, setelah bertahun-tahun setia meski hasil tak selalu memuaskan.
Pawai Juara dan Apresiasi
Sehari setelah pertandingan, ribuan Bobotoh kembali memadati jalanan Bandung untuk mengikuti pawai juara. Dimulai dari stadion, rombongan tim menaiki bus atap terbuka yang berkeliling ke titik-titik ikonik kota: Jalan Asia Afrika, Dago, dan berakhir di Balai Kota Bandung.
Di sana, manajemen klub menggelar acara apresiasi. Seluruh pemain dan ofisial diberikan penghargaan, termasuk pelatih, tim medis, dan kitman. Manajemen juga mengumumkan bahwa tim akan dipertahankan untuk musim depan dan akan mengikuti kompetisi Asia (AFC Cup atau ACL 2) sebagai wakil Indonesia.
Penutup: Titik Awal Era Keemasan Baru
Kemenangan Persib atas Barito Putera dan perayaan juara yang menyertainya menjadi tonggak sejarah baru bagi klub. Setelah sepuluh tahun menunggu, Maung Bandung kembali ke singgasananya. Namun ini bukan akhir, melainkan awal dari era baru.
Dengan skuad solid, dukungan penuh dari Bobotoh, serta fondasi manajemen yang mulai stabil, Persib memiliki peluang besar untuk mendominasi sepak bola nasional dan merambah kompetisi Asia.
Dan malam di GBLA itu akan terus hidup dalam memori jutaan pendukung: malam saat mimpi menjadi nyata, malam saat biru kembali menjulang tinggi di langit Indonesia.
Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut klik link berikut : Sonny Stevens